Senin, 13 Mei 2013

JURNAL


PENTINGNYA PENDAYAGUNAAN LABORATORIUM DALAM PEMBELAJARAN FISIKA


VITA OKTAVIANI (1122070074)
Program Studi Pendidikan Fisika, Jurusan MIPA
Fakultas Tarbiyah dan Keguruan
UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Jl. A. H. Nasution No. 105 Cibiru - Bandung 40614


ABSTRAK :
Tulisan ini bertujuan untuk membahas tentang pentingnya mendayagunakan laboratorium dalam pembelajaran fisika. Metode yang dilakukan yaitu studi pustaka, mencari dan mengumpulkan informasi penting yang sesuai dengan topik penulisan dari berbagai sumber, seperti makalah dan website atau situs internet terkait. Kegiatan praktikum merupakan ruh dari sains. Fisika merupakan cabang dari sains. Pembelajaran fisika tidak akan dapat dipisahkan dari kegiatan praktikum. Fisika terdiri dari berbagai fakta, konsep, teori dan hukum yang dapat dibuktikan dengan kegiatan praktikum. Kegiatan praktikum ini akan lebih efektif bila dilakukan di laboratorium sains (laboratorium fisika) yang berdaya guna.


Kata Kunci : Pendayagunaan, Laboratorium, Kegiatan Praktikum, Pembelajaran Fisika


ABSTRACT
This paper aims to describe the importance of efficiency laboratory in physics learning. The reseach used literature study, searching information from multisources, as paper and website or situs internet relevance. Practical activity is soul of science. Physics is subdivision of science. physics learning cannot separable with practical activity. Physics consist of fact, concept, theory, and law who can verifying by practical activity. The practical activity will more effective if doing in science laboratory (physics laboratory) with efficiently.




Keywords : The efficiency, laboratority, practical activity, physics learning












PENDAHULUAN
Fisika adalah cabang dari Ilmu Pengetahuan Alam (sains). Hakikat fisika dapat ditinjau dari hakikat sains. Menurut Fisher (1975) sains adalah bangunan pengetahuan yang diperoleh menggunakan metode berdasarkan observasi. Menurut Zen (1984) sains adalah suatu eksplorasi ke alam materi berdasarkan observasi, dan yang mencari hubungan-hubungan alamiah yang teratur mengenai fenomena yang diamati serta bersifat mampu menguji diri sendiri. Menurut Dawson (1994) sains adalah aktivitas pemecahan masalah  oleh manusia yang termotivasi oleh keingintahuan untuk memahami, menguasai, dan mengolahnya demi memenuhi kebutuhan.
   Dua aspek penting dari definisi-definisi tersebut adalah proses sains dan produk sains. Yang merupakan proses sains adalah eksperimen yang meliputi penemuan masalah dan perumusannya, perumusan hipotesis, merancang percobaan, melakukan pengukuran, menganalisis data, dan menarik kesimpulan (Sund, 1982). Sedangkan produk sains berupa bangunan sistematis pengetahuan (body of knowledge) (Dawson, 1994); Carin dan Sund, 1989) sebagai hasil dari proses yang dilakukan oleh para saintis. Dalam melakukan proses sains, diperlukan sikap-sikap positif antara lain memiliki rasa ingin tahu (curiosity), jujur. Toleran, skeptis, dan objektif, yang disebut sikap sains atau sikap ilmiah. Oleh karena itu, kalau kita membicarakan sains maka yang tergambar dalam pikiran minimal adalah produk, proses, dan sikap sains (Carin dan Sund, 1989).
Menurut Karso (1993:71) fisika merupakan ilmu yang lahir dan dikembangkan melalui langkah-langkah observasi, perumusan masalah, pengujian hipotesis lewat eksperimen, pengajuan kesimpulan, dan pengujian teori/konsep.” Fisika merupakan bagian dari sains yang memungkinkan manusia memperoleh kebenaran ilmiah dari fenomea-fenomena alam sehingga memudahkan menggambarkan dan mengatur alam. Fisika merupakan mata pelajaran yang berfungsi mengembangkan semua spek belajar yang dimiliki peserta didik (afektif, kognitif, dan psikomotorik) sehingga mempunyai sikap percaya diri untuk bekal hidup di masyarakat.
   Pembelajaran IPA (fisika) tidak akan  terpisahkan dengan kegiatan praktikum. Woolnough dan Allsop (dalam Rustaman, 2003) mengemukakan empat alasan pentingnya kegiatan praktikum IPA. Pertama, praktikum dapat membangkitkan motivasi belajar IPA. Kedua, praktikum mengembangkan keterampilan dasar melakukan eksperimen. Ketiga, praktikum menjadi wahana belajar pendekatan ilmiah. Keempat, praktikum menunjang materi pelajaran. Keterampilan proses IPA sendiri meliputi: mengamati, menafsirkan, mengklasifikasikan, menggunakan alat dan bahan, menerapkan konsep, merencanakan percobaan, berkomunikasi dan mengajukan pertanyaan. Arifin et al. (2003) mengemukakan bahwa metode praktikum merupakan penunjang kegiatan proses belajar untuk menemukan prinsip tertentu atau menjelaskan tentang prinsip-prinsip yang dikembangkan.
Menurut Arifin (2003), keuntungan menggunakan metode eksperimen atau praktikum adalah sebagai berikut:
(1) Dapat menggambarkan keadaan yang konkret tentang suatu peristiwa
(2) Siswa dapat mengamati proses.
(3) Siswa dapat mengembangkan keterampilan inkuiri.
(4) Siswa dapat mengembangkan sikap ilmiah.
(5) Membantu guru untuk mencapai tujuan pembelajaran lebih efektif dan efisien.
   Dalam Anonim (2003), menyatakan bahwa berdasakan hasil pemantauan dan evaluasi yang telah dilakukan oleh Direktorat Pendidikan Menengah Umum Dan Inspektorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, diperoleh informasi bahwa masih banyak laboratorium Fisika (secara umum laboratorium Ilmu pengetahuan Alam/IPA) yang belum dimanfaatkan sebagaimana mestinya, bahkan pengelolaan dan pemanfaatannya sebagai sumber belajar belum optimal atau ada yang belum digunakan sama sekali. masalah tersebut disebabkan oleh berbagai macam faktor. Hal ini dapat berakibat, siswa belajar fisika yang bersifat hafalan, sehingga menjadi kurang bermakna dan berdampak pada pembelajaran yang kurang optimal.
Berdasarkan uraian di atas, penulis merasa penting untuk  membahas tentang pentingnya pendayagunaan laboratorium dalam pelaksanaan kegiatan praktikum dalam pembelajaran fisika.




PEMBAHASAN
Laboratorium (disingkat lab) adalah tempat riset ilmiah, eksperimen, pengukuran ataupun pelatihan ilmiah dilakukan. Laboratorium biasanya dibuat untuk memungkinkan dilakukannya kegiatan-kegiatan tersebut secara terkendali (Anonim, 2007). Menurut Emha (2002), laboratorium diartikan sebagai suatu tempat untuk mengadakan percobaan, penyelidikan, dan sebagainya yang berhubungan dengan ilmu fisika, kimia, dan biologi atau bidang ilmu lain.  Pengertian lain menurut Sukarso (2005), laboratorium ialah suatu tempat dimana dilakukan kegiatan kerja untuk mernghasilkan sesuatu. Tempat ini dapat merupakan suatu ruangan tertutup, kamar, atau ruangan terbuka, misalnya kebun dan lain-lain.
Laboratorium dalah salah satu sarana pendidikan yang dapat digunakan sebagai tempat berlatih, siswa dapat mengadakan kontak dengan obyek yang dipelajari secara langsung baik melalui pengamatan maupun dengan melakukan percobaan, dari laboratorium itulah akan selalu mengalir informasi-informasi ilmiah baru yang berasal dari hasil-hasil penemuan para peneliti di laboratorium.
Selain uraian di atas, ada juga yang mengartikan laboratorium sebagai sutau tempat dilakukannya percobaan dan penelitian. Tempat ini dapat merupakan suatu ruangan tertutup, kamar atu ruangan terbuka, kebun misalnya. Dalam pengertian yang terbatas, laboratorium ialah suatu ruangan tertutup dimana percobaan dan penelitian dilakukan.
Laboratorium merupakan salah satu prasarana pendidikan, yang dapat digunakan sebagai tempat berlatih para siswa dalam memahami konsep-konsep IPA dengan melakukan percobaan dan pengamatan. Dengan demikian, laboratorium IPA-Fisika merupakan bagian yang integral tak dapat dipisahkan dari suatu pengajaran Fisika. Ilmu pengetahuan yang diperoleh dari hasil observasi, eksperimentasi dan harus siap diuji melalui observasi dan eksperimentasi lanjutan. Keberadaan laboratorium IPA-Fisika diperlukan untuk memberikan pengalaman langsung dari aplikasi teori yang diterima melalui kegiatan laboratorium/praktikum, untuk menunjang kegiatan belajar mengajar di kelas. Praktikum IPA khususnya Fisika tidak hanya terbatas dilaksanakan di ruang laboratorium, tetapi dapat juga dengan memanfaatkan alam melalui kegiatan lapangan.
Berkaitan dengan hal di atas maka peranan laboratorium IPA-Fisika menjadi sangat penting, karena laboratorium merupakan pusat proses belajar mengajar untuk mengadakan percobaan, penyelidikan, atau penelitian dalam bidang IPA. Dengan demikian laboratorium mempunyai fungsi sebagai tempat kegiatan penunjang dari kegiatan kelas, atau sebaliknya kegiatan kelas menjadi penunjang kegiatan laboratorium. Di laboratorium siswa akan memperoleh keterampilan sebagaimana yang diharapkan oleh kurikulum.
Tujuan laboratorium adalah untuk melibatkan siswa dalam menggunakan strategi dan prosedur logis, untuk mempertunjukan (mendemosntrasikan) implikasi tentang hukum dan teori ilmiah, untuk menyediakan pengalaman dalam mempertanyakan yang baik tentang alam, untuk menyediakan praktek mengenali keteraturan, simetri, keanekaragaman dan penggunaanantar komponen pengamatan. Sehingga secara umum tujuan laboratorium dalah untuk membantu menentukan pesan intelektual pada data, keterampilan yang dibutuhkan bersifat intelektual.
Fungsi utama laboratorium adalah untuk menyampaikan roh/jiwa metode inkuiri ilmiah. Menurut Sharma (1981: 205) salah satu fungsi yang penting laboratorium ilmu pengetahuan adalah memperdalam pemahaman siswa tentang konsep ilmiah dan aplikasinya berhubungan erat dengan lingkungan alam Depdikbud (1999: 12) mengungkapkan bahwa fungsi dan peranan laboratorium adalah  :
(1)   Laboratorium sebagai sumber belajar
Tujuan pembelajaran fisika dengan banyak variasi dapat digali, diungkapkan, dan dikembangkan dari laboratorium. Laboratorium sebagai sumber untuk memecahkan masalah atau melakukan percobaan. Berbagai masalah yang berkaitan dengan tujuan pembelajaran terdiri dari 3 ranah yakni: ranah pengetahuan, ranah sikap, dan ranah keterampilan/afektif.           
(2)   Laboratorium sebagai metode pendidikan
Di  dalam laboratorium terdapat dua metode dalam pembelajaran yakni metode percobaan dan metode pengamatan.
(3)   Laboratorium sebagai prasaran pendidikan.
Laboratorium sebagai prasarana pendidikan atau wadah proses pembelajaran. Laboratorium terdiri dari ruang yang dilengkapi dengan berbagai perlengkapan dengan bermacam-macam kondisi yang dapat dikendalikan, khususnya peralatan untuk melakukan percobaan.

Selain keperluan yang logis, eksperimen laboratorium memiliki nilai-nilai sebagai berikut :
(1) Siswa menemukan, membuktikan statement guru dan tulisan buku ketika melaksanakan eksperimen di laboratorium.
(2) Kegitan praktikum menyediakan suatu aktivitas yang dapat menguntungkan dan secara emosional memuaskan.
(3) Memperoleh pengetahuan ilmiah dan pandangan ilmiah, yang merupakan dua sasaran utama mengajar sains, dapat dicapai hanya melalui kegiatan praktik laboratorium.
(4) Menyediakan peluang untuk pelatihan dan metode ilmiah untuk memecahakan masalah.
(5) Praktikum akan membentuk siswa mampu bekerjasama, menambha wawasan, inisiatif, percaya diri, dan lain-lain.
(6) Menyediakan peluang untuk berlatih membaca skala, membuat diagram dan membiasakan para siswa untuk menggunakan berbagai peralatan yang biasa digunakan ilmuan.
Laboratorium merupakan bagian penting dan utama dalam proses pendidikan, artinya siswa secara individu atau berkelompok dengan bimbingan guru belajar berlatih secara aktif menggunakan segenap panca indera, otak dan tenaganya memecahkan berbagai masalahnya sendiri dari buku-buku perpustakaan atau Lembar Kerja Siswa (LKS), kemudian mendiskusikan hasil-hasil penelaahannya di dalam laboratorium untuk memperoleh pengetahuan (Dikbud, 1999 : 5).




Menurut Sukarso (2005), secara garis besar laboratorium dalam proses pendidikan adalah sebagai berikut:
(1)   Sebagai tempat untuk berlatih mengembangkan keterampilan intelektual melalui kegiatan pengamatan, pencatatan dan pengkaji gejala-gejala alam.
(2)   keterampilan motorik siswa. Siswa akan bertambah keterampilannya dalam mempergunakan alat-alat media yang tersedia untuk mencari dan menemukan kebenaran.
(3)   Memberikan dan memupuk keberanian untuk mencari hakekat kebenaran ilmiah dari sesuatu objek dalam lingkungn alam dan sosial.
(4)   Memupuk rasa ingin tahu siswa sebagai modal sikap ilmiah seseorang calon ilmuan.
(5)   Membina rasa percaya diri sebagai akibat keterampilan dan pengetahuan atau penemuan yang diperolehnya.
Menurut Emha (2002) peranan laboratorium sekolah antara lain :
(1) Laboratorium sekolah sebagai tempat timbulnya berbagai masalah sekaligus sebagai tempat untuk memecahkan masalah tersebut.
(2) Laboratorium sekolah sebagai tempat untuk melatih keterampilan serta kebiasaan menemukan suatu masalah dan sikap teliti.
(3) Laboratorium sekolah sebagai tempat yang dapat mendorong semangat peserta didik untuk memperdalam pengertian dari suatu fakta yang diselidiki atau diamatinya.
(4) Laboratorium sekolah berfungsi pula sebagai tempat untuk melatih peserta didik bersikap cermat, bersikap sabar dan jujur, serta berpikir kritis dan cekatan.
(5) Laboratorium sebagai tempat bagi para peserta didik untuk mengembangkan ilmu pengetahuannya.



Menurut Arifin (2003), keuntungan menggunakan metode eksperimen atau praktikum adalah sebagai berikut:
  1. Dapat menggambarkan keadaan yang konkret tentang suatu peristiwa
  2. Siswa dapat mengamati proses.
  3. Siswa dapat mengembangkan keterampilan inkuiri.
  4. Siswa dapat mengembangkan sikap ilmiah.
  5. Membantu guru untuk mencapai tujuan pembelajaran lebih efektif dan efisien.
Dalam pembelajaran fisika, kegiatan praktikum fisika dapat dan seharusnya dilaksanakan di laboratorium, baik laboratorium yang disiapkan terlebih dahulu yang dilengkapi dengan segala macam peralatan yang dibutuhkan untuk praktik, dapat pula di laboratorium alam yang memiliki fasilitas seadanya sesuai dengan alam yang ada disekitar sekolah. Laboratorium ini diharapkan dapat menempatkan cara belajar fisika sebagaimana seharusnya yang akan dapat melibatkan siswa belajar, baik secara langsung maupun tidak langsung. Sehingga siswa dapat lebih memahami materi dibandingkan dengan pembelajaran biasa.
Berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) guru fisika sangat dituntut dalam kreatifitas membuat alat-alat sederhana yang mampu menjelaskan teori dan konsep fisika, sesuai dengan peralatan yang ada dan kondisi daerahnya agar tervisualisasi sehingga mudah dipahami dan dimengerti siswanya. Untuk itu peranan laboratorium fisika menjadi sangat penting, karena laboratorium merupakan pusat proses belajar mengajar untuk mengadakan percobaan, penyelidikan atau penelitian (Ar1, 2007).






Berdasarkan hasil pemantauan Direktorat Pendidikan Menengah Umum dan Inspektorat Jendral dalam Anonim (2003), Laboratorium IPA-Fisika yang pemanfaatan dan pengelolaannya sebagai sumber belajar yang belum optimal atau tidak digunakan disebabkan oleh berbagai faktor antara lain:
(1) Kemampuan dan penguasaan guru terhadap peralatan dan pemanfaatan bahan praktek masih belum memadai
(2) Kurang memadai baik secara kualitas maupun kuantitas tenaga laboratorium
(3) Banyak alat-alat laboratorium dan bahan yang sudah rusak yang belum diadakan kembali
(4) Tidak cukupnya/terbatasnya alat-alat dan bahan mengakibatkan tidak setiap siswa mendapat kesempatan belajar untuk mengadakan eksperimen.
Kegiatan praktikum akan memberikan makna apabila kegiatan tersebut direncanakan dengan baik, memberi kesempatan untuk memilih prosedur alternatif, merancang eksperimen, mengumpulkan data dan menginterpretasikan data yang diperoleh. Untuk dapat melaksanakan praktikum dengan tuntutan tersebut diperlukan keterampilan berpikir atau intelektual skill. Untuk mengembangkan keterampilan tersebut dalam praktikum, siswa perlu menggunakan prosedur yang logis dan strategis (Arifin et al., 2003).








Dalam anonim (2003), Langkah-langkah praktis pelaksanaan kegiatan laboratorium fisika adalah sebagai berikut :
(1) Guru Fisika pada awal tahun pelajaran dan semester sebaiknya menyusun program semester yang ditanda tangani oleh kepala sekolah. Tujuannya untuk mengidentifikasi kebutuhan alat/bahan serta menyusun jadwal dan untuk keperluan supervisi bagi kepala sekolah.
(2) Setiap akan melaksanakan kegiatan laboratorium, guru sebaiknya mengisi format permintaan/peminjaman alat/bahan kemudian diserahkan kepada penanggung jawab teknis laboratorium atau laboran. Ini diperlukan untuk mempersiapkan alat/bahan serta mengecek fungsi tiap-tiap alat.
(3) Di laboratorium, guru tidak hanya memberikan bimbingan kepada siswa untuk melakukan eksperimen, tetapi guru dapat pula menyampaikan konsep atau subkonsep non eksperimen, yang memerlukan alat bantu, misalnya cara menggunakan osiloskop.
(4) Kegiatan di lapangan juga dapat dilakukan yang merupakan laboratorium alam. Dalam melaksanakan kegiatan di laboratorium alam ini adalah untuk menyampaikan atau menerapkan aplikasi-aplikasi dari materi fisika dalam kehidupan sehari-hari. Guru harus sudah menyiapkan fasilitas, alat seadanya ataupun siap memberikan pemahan konsep tentang aplikasi dari materi.










Pembelajaran yang menerapkan kegiatan laboratorium seyogyanya mengandung prinsip-prinsip berikut :
(1) Kelas dan Aktivitas Laboratorium saling mendukung dan tidak dapat dibedakan diantara keduanya.
(2) Secara khas laboratorium dimulai di dalam kelas sebelum diskusi laboratorium dari gagasan unutk diselidiki, berikutnya ke pengamatan dan eksperimen yang diikuti oleh sasaran/tujuan tentang pengamatan dalam kaitan dengan model, hipotesis, teori atau hukum. Ada suatu hubungan simbiosis antara kelas dan aktivitas laboratorium.
(3) Menyampaikan dengan teliti investigatory jiwa/roh sains memerlukan suatu rangkaian yang berkelanjutan mengadakan eksperimen pada topik yang sama. Masing-masing eksperimen baru dalam urutannya menggunakan hasil dari eksperimen sebelumnya atau menambahkan lebih informasi atau menyelidiki masalah itu oleh alat berbeda.
 (4) Eksperimen dipilih dan ditempatkan pada suatu urutan yang akan mengantarkan siswa secara efektif menjadi seorang penyelidik independen (mandiri).
(5) Kerja laboratorium terutama semata suatu cara belajar.
Kegiatan praktikum akan memberikan makna apabila kegiatan tersebut direncanakan dengan baik, memberi kesempatan untuk memilih prosedur alternatif, merancang eksperimen, mengumpulkan data dan menginterpretasikan data yang diperoleh. Untuk dapat melaksanakan praktikum dengan tuntutan tersebut diperlukan keterampilan berpikir atau intelektual skill. Untuk mengembangkan keterampilan tersebut dalam praktikum, siswa perlu menggunakan prosedur yang logis dan strategis (Arifin et al., 2003).




Dalam melakukan eksperimen/kerja laboratorium harus memperhatikan beberapa karakteristik yang perlu ditempuh, diantaranya :
(1) Eksperimen terpilih pada kegiatan pembelajaran sains harus menunjang    tercapainya tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dan dijelaskan secara spesifik.
(2) Pendahuluan eksperimen memiliki suatu aspek kuantitatif kepada penafsiran hasil, dan diperoleh penyatuan data dari kelompok siswa yang berbeda.
(3) Kebanyakan eksperimen didasarkan pada suatu prosedur induktif yang didalamnya ada tahap deduktif pada konsep eksperimen tak terbatas (terbuka).
(4) Usaha yang cukup telah masuk pada pengembangan peralatan yang disederhanakan untuk digunakan pada eksperimen yang hemat biaya tetapi tak mengurangi esensi belajar tuntas.
(5) Eksperimen yang difilmkan dari para siswa telah diproduksi oleh beberapa pojek kurikulum, yang memungkinkan dan mengakses pada pada peralatan yang tidak mahal dan rumit untuk digunakan sekolah menengah.
(6) Petunjuk Laboratorium (LKS) mendukung siswa dalam menulis dan mengintrepetasikan hasil eksperimen seuai petunjuk.
Guru fisika harus  membuat lembar kerja siswa yang merangsang siswa untuk bekerja dan mencoba menemukan teori, konsep, rumus fisika sederhana, sehingga mereka dilatih untuk menjadi peneliti-peneliti muda. Dalam proses belajar mengajar diperlukan berbagai peralatan yang memadai untuk menunjang kelancaran pelaksanaan kegiatan belajar mengajar. Dalam hal ini alat peraga mempunyai peranan yang sangat penting bahkan dapat menentukan berhasil atau tidaknya kegiatan proses belajar mengajar.
Secara garis besar alat peraga, ada yang mudah dibuat dan ada yang sukar dibuat. Alat yang mudah dibuat dinamakan alat peraga sederhana karena dapat menggunakan bahan murah dan mudah didapat dari lingkungan sekitar dan dapat pula dibuat sendiri oleh guru atau bersama-sama dengan peserta didik. Penggunaan dan pembuatan alat peraga sederhana dapat merangsang kreativitas para guru atau peserta didik untuk mengembangkan kemampuannya dalam membuat alat peraga, sedangkan alat yang sukar akan dibuatkan oleh instansi yang memerlukan dan kemudian disebarkan ke sekolah (Emha, 2002).
Pengelolaan Laboratorium
Pengelolaan adalah suatu proses pendayagunaan sumber daya secara efektif dan efisien untuk mencapai suatu sasaran yang diharapkan. Sedangkan laboratorium adalah salah satu sarana pendidikan yang dapat digunakan sebagai tempat berlatih, siswa dapat mengadakan kontak dengan obyek yang dipelajari secara langsung baik melalui pengamatan maupun dengan melakukan percobaan, dari laboratorium itulah akan selalu mengalir informasi-informasi ilmiah baru yang berasal dari hasil-hasil penemuan para peneliti di laboratorium.
Pengelolaan laboratorium berkaitan dengan pengelolaan, penggunaan, fasilitas laboratorium (bangunan, peralatan laboratorium, spesimen biologi, bahan kimia), dan aktivitas yang dilaksanakan di laboratorium yang menjaga keberlanjutan fungsinya. Aspek-aspek dari pengelolaan laboratorium terdiri atas perencanaan, penataan, pengadministrasian, serta pengamatan dan perawatan.
Penataan alat dan bahan laboratorium meliputi penataan yang disesuaikan dengan fasilitas yang ada di laboratorium, penyimpanan alat (pengelompokkan alat dan penyimpanan alat yang memerlukan perhatian khusus), penyimpanan zat (dikelompokkan apalagi zat beracun). Tak kalh pentingnya lagi dalam kegiata laboratorium adalah memperhatikan dan menjaga keamanan, keselamatan kerja, dan PPPK.

Lokasi dan Ukuran-ukuran
Sebelum laboratorium dibangun hendaknya dipikirkan secara matang lokasi bangunan laboratorium.
Menurut buku penentuan perencanaan pembangunan yang diterbitkan oleh proyek penyediaan fasilitas laboratorium sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, departemen pendidikan dan kebudayaan, persyaratan umum lokasi laboratorium dalam hubungannya dengan bangunan sekolah yang telah ada ialah sebagai berikut:
a.    Tidak terletak di arah angin untuk menghindarkan pencemaran udara.
b.    Mempunyai jarak yang cukup jauh dari sumber air, untuk menghindari pencemaran sumber air.
c.    Mempunyai saluran pembuangan limbah tersendiri, untuk menghindari pencemaran saluran air penduduk.
d.   Mempunyai jarak cukup jauh dari bangunan yang lain, untuk mendapatkan ventilasi dan penerangan alam yang optimum. Jarak minimal sama dengan tinggi bangunan terdekat, atau kira-kira 3 meter
e.    Terletak pada bagian yang mudah dikontrol dalam kompleks, dalam hubungannya dengan pencegahan terhadap pencurian, kebakaran dan sebagainya.

Salah satu persyaratan ruangan bagi laboratorium adalah cukup luas. Tim penyusun buku Penuntun Perencanaan Pembangunan mengambil ketentuan bahwa luas lantai laboratorium tempat perlengkapan laboratorium termasuk m2eja, kursi, lemari, dan rak yang ada di dalamnya ialah kira-kira 100  termasuk ruang persiapan dan gudang. Luas ini didasarkan atas perhitungan bahwa laboratorium tersebut dipakai oleh 40siswa, yang berarti tiap siswa menempati ruangan kira-kira 2 . Luas lantai yang sebaiknya bagi laboratorium tempat siswa melakukan praktikum ialah kira-kira 90 , tidak termasuk ruang persiapan dan gudang. Laboratorium dengan luas 90  hendaknya mempunyai ruang persiapan seluas 20 , disamping itu diperlukan juga ruang penyimpanan (gudang) yang besarnya kira-kira 4x5 m, supaya cukup untuk lemari dan rak. Bila diperlukan ruang gelap hendaknya lebarnya tidak kurang dari 2m.

Organisasi Laboratorium
Kegiatan laboratorium akan berfungsi dengan baik bila terorganisasi dengan baik pula, yang melibatkan pimpinan yang bertanggung jawab terhadap seluruh pelaksanaan kegiatan, penanggung jawab teknis, koordinator, dan laboran, dengan tugas dan beban kerja yang diembankan pada masing-masing personal.
Tugas yang paling sukar dan memerlukan waktu ialah mengorganisasi laboratorium. Termasuk di dalam tugas ini adalah mengatur dan memelihara serta mengadakn/membeli alat dan bahan, menjaga disiplin laboratorium dan menjaga keselamatan di laboratorium.
Seorang guru IPA diharapkan tidak hanya tahu bagaimana mengajarkan IPA sesuai dengan bidangya, tetapi juga harus tahu bagaimana mengelola alat dan bahan pelajaran IPA. Kepala sekolah/madrasah sebagai penanggung jawab sekolah secara keseluruhan, baik administrasi kependidikan maupun teknis pendidikan, memerlukan beberapa orang pembantu untuk melaksanakn tugasnya. Pembantu-pembantu ini diantaranya wakil kepala sekolah. Di samping wakil kepala sekolah biasanya terdapat juga koordinator mata pelajaran, misalnya koordinator mata pelajaran IPA, IPS, bahasa, dan yang lainnya. Masing-masing koordinator ini bertanggung jawab atas kemajuan dan kelancaran pelajaran yang dikoordinasinya.

Tugas dan Fungsi
1.  Kepala Sekolah :
1)        Memberi tugas kepada penanggung jawab teknis laboratorium IPA dan penanggung jawab mata pelajaran (fisika, kimia, dan biologi).
2)        Memberikan bimbingan, motivasi, pemantauan dan evaluasi kepada petugas-petugas laboratorium  IPA.
3)        Memberikan motivasi kepada guru-guru IPA dalam hal kegiatan laboratorium IPA.
4)        Menyediakan dana keperluan operasional laboratorium.

2. Kepala Laboratorium
1)        Bertanggung jawab atas kelengkapan administrasi laboratorium
2)        Bertanggung jawab atas kelancaran kegiatan laboratorium IPA
3)        Mengusungkan kepada kepala sekolah tentang pengadaan alat/bahan laboratorium
4)        Bertanggung jaawb atas kebersihan, penyimpanan, perawatan, dan perbaikan alat.
5)        Mengkoordinasi guru mata pelajaran (fisika, kimia, dan biologi)
6)        Menyusun jadwal dan tata tertib penggunaan laboratorium
7)        Mengatur penyimpanan dan daftar alat-alat laboratorium
8)        Memelihara dan perbaikan alat-alat laboratorium
9)        Inventarisasi dan pengadministrasian peminjaman alat-alat laboratotium









Inventaris Alat dan Bahan
Kegiatan yang dimaksud dengan pengadministrasian alat dan bahn ini ialah mendaftar alat dan bahan yang ada dalam kewenangannya dalam suatu sistem tertentu. Yang termasuk di dalam daftra ini ialah berupa jumlah alat dan bahan yang telah diterima atau dibeli, berapa yang hilang atau rusak atau habis dan berapa sisa. Dari administrasi alat dan bahan ini dan dari hasil laporan akhir tahun dibuatlah perencanaan untuk tahun berikutnya. Jadi, jika administrasi ini dikerjakan dengan baik, sekolah akan mudah merencanakan keperluan tahun berikutnya tentang jenis alat yang akan dibeli dan bahan-bahan yang harus ada untuk mengganti yang sudah habis atau rusak. Administrasi yang baik juga memudahkan kepala sekolah untuk memberikan laporan periodik kepada atasnnya tentang alat dan bahan inventaris yang menjadi wewenang kepala sekolah.
Pengadministrasian alat dan bahan laboratorium meliputi: tersedianya administrasi yang lengkap, meliputi buku inventaris barang, kartu stok, kartu peminjaman, buku harian, kartu alat/bahan yang rusak, tata tertib laboratorium, dan lain-lain.
Adapun administrasi alat praktek IPA menurut sukarso (2005), terdiri dari beberapa bagian antara lain :
1.      Kartu stok adalah untuk mengetahui jumlah alat/bahan yang tersedia di laboratorium dan tempat penyimpanannya
2.      Buku inventaris, memuat catatan tentang jumlah semua macam barang yang ada di laboratorium termasuk perabot laboratorium
3.       Daftar alat/bahan sesuai LKS
4.      Buku harian kegiatan laboratorium berguna untuk merekam semua kejadian dalam kegiatan laboratorium
5.      Label, memuat kode alat, nama alat dan jumlah alat dan keterangan mengenai kondisi alat tersebut
6.      Format permintaan alat/bahan, biasanya diisi oleh guru bila akan melaksanakan kegiatan laboratorium dan diberikan kepada laboran sebelum kegiatan dilakukan.




Perubahan kurikulum saat ini telah menyempurnakan suatu perubahan nilai laboratorium dalam mengajar sains, seperti tujuan yang diperbaharui, eksperimen yang aktual, model dalam mengajar yang layak. Satu kekuatan yang diperoleh dari kegiatan laboratorium adalah akan membimbing siswa sepanjang hidupnya dalam kemampuannya membaca sains.
            Pada pendidikan masa depan nampaknya akan ada nilai lebih pada bidang pendidikan dari eksperimen laboratorium yang sasarannya mengembangkan keterampilan, menerapkan inkuiri ilmiah, mengembangkan kemampuan intelektual dan konseptual yang menemukan aplikasi dalam dunia nyata.















KESIMPULAN
            Pembelajaran sains (fisika) tidak dapat dipisahkan dari kegiatan praktikum. Meskipun kegiatan praktikum tidak hanya dapat dilakukan di laboratorium, akan tetapi laboratorium tetap menjadi sarana yang penting untuk menunjang kegiatan praktikum yang lebih efektif, sehingga memudahkan proses belajar mengajar fisika dari guru kepada siswa. Oleh karena itu, sangat penting untuk mendayagunakan laboratorium secara optimal sesuai dengan peran dan fungsinya.
















DAFTAR PUSTAKA
Dirgantara, Yudi. 2009. Pengelolaan Laboratorium IPA (Bahan Ajar Perkuliahan). Bandung: UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
Sumaji, dkk. 1998. Pendidikan Sains yang Humanistis. Yogyakarta: KANISIUS.
Internet:
Azhar, Rofa Yulia. 2012. Pentingnya Kegiatan Praktikum dalam Pembelajaran.
[Online] tersedia :
                            [Online] tersedia :  http://kuli-pintar.blogspot.com/2011/06/efektivitas-penggunaan-laboratorium.html. [23 Februari 2013]
http://wildanarchibald.wordpress.com/2012/05/29/laporan-kunjungan-atau-survei-pengelolaan-laboratorium/
www.mansaba.sch.id/web-saba /artikel-guru/190-hakikat fisika