Minggu, 29 September 2013

E=mc2


#Hari – 3
Seharian kemarin aku belum bertemu dengan pak Arif sobat.Tapi hari ini semoga aku bisa bertemu dengan beliau, hari ini ada mapel fisika di kelas ku. Asyik, aku tak sabar ingin segera bertemu dengan fisika.
“Setelah kemarin bapak menjelaskan secara garis besar pembagian fisika, kini kita akan mulai mereview materi-materi ynag telah diajarkan. Dimulai dulu dari fisika klasik. Seperti yang sudah bapak jelaskan kemarin bahwa selama ini kalian beljaar fisika klasik, fisika jadul. Sedabgkan untuk Fisika modern kalian pelajari di kelas XII ini, diantaranya tentang teori relativitas Einstein. Ada yang sudah tau tentang teori ini?”
“Belum..”
“Dan adakah yang ingin tahu?”
“Tidak...” (kataku keras) Sontak semua mata melihatku heran.
“Kenapa Sika, eh Azki? Kenapa tidak?”
“Tidak hanya ingin tahu pak, tapi ingin paham :D” kataku mantap
“hahaha..” lagi kelas mentertawaiku.. sedang pak Arif tersenyum.
“iya, bagus, tentu semoga kalian bukan hanya tahu tapi juga paham. Bahkan kalian harus mampu mengambil manfaatnya, menerapkannya dalam kehidupan.”
“iya pak..”
“Ok, sekarang sebelum mereview materi yang sudah, bapak berikan selayang pandang dulu tentang Relativitas. Ini sangat seru lho.”
“Seru???”
“Bapak akan jelaskan teori ini secar lebih mudah dicerna, seperti dalam artikel Prof. Yohanes Surya, bapak fisika Indonesia.”
Pak Arif pun kemudian memperkenalkan teori relativitas kepada kami, berdasarkan artikel Prof. Yohanes. Sika akan cantmkan artikelnya disini sobat, silahkan membaca, asyik lho :D

Einstein: Newton forgive me….

Itu kata-kata Einstein saat teori yang dihasilkannya ternyata berhasil menggulingkan teori Isaac Newton, seorang fisikawan legendaris, yang teorinya dipercaya oleh dunia sebelum munculnya teori Einstein yang mengobrak-abrik semuanya. Albert Einstein membuat heboh dengan Teori Relativitas Khusus (The Special Theory of Relativity) yang ditelorkannya pada tahun 1905. Sebentar lagi, teori yang pernah mengagetkan dunia ini akan merayakan ulang tahunnya yang ke-100! Perayaan seabadnya (Centenary) teori si jenius Albert Einstein ini bisa dilihat dari ramainya majalah-majalah ilmiah yang mulai membahas kembali teori yang sudah mengguncang dunia selama seratus tahun ini. Tahun 2005 bahkan dicanangkan sebagai The World Year of Physics untuk mengenang kebesaran Einstein. Apa sih istimewanya teori ini? Koq seluruh dunia begitu heboh merayakan kelahirannya ini? Yuk, kita ikut dalam gosip seru tentang apa yang menjadi dasar lahirnya teori ini...
Seorang ahli matematika dari Perancis, Jules Henri Poincaré, pernah mengajukan perumpamaan berikut. Di suatu malam, kita sedang asyik tidur dengan lelap di tempat tidur kita yang nyaman. Tiba-tiba seluruh jagad raya mengembang sehingga ukurannya menjadi seribu kali lebih besar dari ukuran semula. Seluruh jagad raya ini maksudnya semua benda di bumi dan di luar bumi, mulai dari benda-benda mati sampai semua jenis makhluk hidup, termasuk kita sendiri yang sedang lelap tertidur. Karena kita sedang asyik bermimpi, kita tidak menyadari kejadian ini. Sewaktu kita terbangun di pagi harinya, apa kita bisa merasakan bahwa semuanya sudah menjadi lebih besar? Apa kita bisa merasakan perbedaannya? Kalaupun kita diberi tahu bahwa ada kejadian menghebohkan tersebut saat kita tertidur, apakah ada yang bisa membuktikannya? Pasti kita tidak merasakan perbedaan apa pun walaupun seluruh jagad raya kini sudah berubah ukurannya. Ini karena semuanya ikut berubah sehingga tidak ada satu pun yang bisa dijadikan patokan untuk mengukur terjadinya perubahan tersebut. Karena itu, kita juga tidak mungkin bisa membuktikan bahwa seluruh jagad raya ini kini telah menjadi seribu kali lebih besar. Semua terlihat sama. Lain halnya jika hanya tubuh kita yang tiba-tiba menciut menjadi sangat kecil (ingat film fiksi Honey, I Shrunk the Kids!), sedangkan seluruh jagad raya tetap pada ukurannya semula. Tidak ada satu pun yang berubah ukuran kecuali tubuh kita sendiri. Wah, sudah pasti kita langsung panik karena kita bisa langsung merasakan perbedaan itu. Kita langsung tahu apa yang terjadi karena kita bisa melihat bahwa sekeliling kita tiba-tiba tampak seperti raksasa. Baju yang kita pakai tiba-tiba kedodoran, dan cincin yang biasa melingkar manis di jari kita tiba-tiba tampak seperti lingkaran raksasa yang berat dan menyeramkan karena hampir jatuh menimpa tubuh kerdil kita itu. Tetapi, apakah itu berarti bahwa tubuh kita yang mengecil, atau sekeliling kita yang tiba-tiba membesar? Hmm... bingung juga ya!
Bagaimana cara kita menentukan mana yang besar dan mana yang kecil? Apakah planet bumi yang kita tempati ini bisa disebut berukuran besar? Kalau dibandingkan dengan ukuran bola basket yang biasa kita mainkan di sekolah, tentu saja planet bumi ini tampak seperti bola raksasa yang sangat besar! Tetapi kalau kita bandingkan dengan matahari, planet bumi ini termasuk kecil! Jadi, yang mana yang benar? Besar atau kecil? Tidak ada yang benar, dan tidak ada yang salah! Itulah letak permasalahannya. Ukuran tidak bisa dinyatakan secara absolut. Untuk mengukur sesuatu kita perlu sesuatu yang lain sebagai perbandingannya. Ini berarti bahwa ukuran (orang fisika lebih senang menyebutnya sebagai: Length) selalu bersifat relatif, tidak ada yang mutlak berukuran besar ataupun kecil.
Sekarang kita coba lihat kasus lain. Masih ingat cerita si Kancil yang gesit dan lincah? Kancil bisa berlari sangat cepat. Tunggu dulu! Apa benar kancil itu cepat? Kalau dibandingkan dengan siput, sudah pasti si kancil terlihat sangat cepat. Kalau dibandingkan dengan juara olimpiade pun kancil masih terlihat sangat cepat. Tetapi kalau kita bandingkan dengan pesawat terbang, tentu saja si kancil jadi terlihat begitu lambat. Apa ini berarti pesawat terbang itulah yang cepat? Tidak juga! Kalau kita lihat roket yang meluncur ke luar angkasa, kita bisa langsung tahu bahwa roket itu jauh lebih cepat dari pesawat terbang biasa. Ini berarti, kecepatan pun merupakan sesuatu yang relatif. Kita juga bisa membuktikan ini saat kita sedang mengantar saudara kita yang akan pergi ke luar kota naik kereta api cepat. Sewaktu kereta mulai meluncur, kita melihat saudara kita itu melesat dengan cepat. Tetapi di dalam kereta itu sendiri, orang yang duduk di sebelah saudara kita itu melihat bahwa saudara kita itu duduk diam dan tenang di sebelahnya. Jadi, bagi kita yang sedang berada di luar kereta yang sedang meluncur itu, saudara kita memang terlihat bergerak dengan cepat. Tetapi bagi semuanya yang ada di dalam kereta, ia terlihat sedang diam. Jadi, waktu (Time) tidak mempunyai nilai absolut, sama seperti ruang (Space). Semuanya harus selalu dibandingkan dengan sesuatu yang bisa dijadikan patokan. Misteri inilah yang diutak-atik oleh otak jenius Einstein sehingga melahirkan teori relativitasnya yang terkenal itu. Semua hal yang tampak sebagai sesuatu yang absolut ternyata merupakan sesuatu yang relatif.
Ada dua postulat dalam teori relativitas khusus ini. Yang pertama menyatakan bahwa semua hukum fisika yang berlaku di bumi, berlaku juga di seluruh jagad raya. Yang kedua menyatakan bahwa kecepatan cahaya di ruang hampa selalu konstan (sekitar tiga ratus juta meter per detik, atau sering ditulis dalam bentuk kerennya: 3.108 meter per detik). Postulat yang kedua ini menunjukkan bahwa bagaimanapun cara kita mengukurnya, kecepatan cahaya tidak pernah berubah. Apa pun patokan yang kita gunakan untuk mengukur kecepatan cahaya, di mana pun posisi kita saat mengukur, dan berapa pun kecepatan kita (apakah kita sedang bergerak atau sedang duduk diam) saat mengukur, kecepatan cahaya selalu konstan. Ini menunjukkan bahwa kecepatan cahaya merupakan satu-satunya yang bersifat absolut. Postulat yang pertama pun menyatakan bahwa kondisi ini selalu berlaku di mana pun juga. Ini berarti, jika kita mengukur kecepatan cahaya di galaksi lain, kita tetap mendapatkan hasil yang sama, yaitu tiga ratus juta meter per detik!
Postulat-postulat Einstein ini ternyata memberi dampak besar bagi dunia. Ia pernah mencoba menjelaskan efek yang dihasilkan dari teorinya ini dalam perumpamaan berikut. Misalnya ada sebuah kereta yang sedang meluncur cepat. Si A sedang duduk dengan tenang dalam salah satu gerbong kereta itu. Si B sedang berdiri diam di luar kereta dan mengamati kereta yang meluncur di depannya itu. Sewaktu gerbong kereta yang dinaiki si A meluncur tepat di depannya, tiba-tiba ada kilat menyambar di dua tempat yang berbeda. Kilat pertama menyambar 100 meter di sebelah kanan B, sedangkan kilat yang satunya lagi menyambar 100 meter di sebelah kiri B. Saat kedua kilat menyambar, posisi A tepat di depan B. Karena si B sedang berdiri diam di luar kereta yang sedang meluncur, si B melihat kedua kilat itu menyambar pada saat yang bersamaan. Tetapi lain halnya dengan si A. Si A yang sedang berada di dalam kereta yang meluncur cepat (ke arah kanan si B) melihat kedua kilat menyambar satu per satu. Kilat yang pertama terlihat lebih dulu, beberapa saat kemudian baru kilat yang kedua terlihat oleh A. Padahal jarak A terhadap kilat pertama dan kedua sama dengan jarak B terhadap kedua kilat itu. Perbedaan ini disebabkan bedanya kerangka acuan A dan B (frame of reference). Si A sedang ‘meluncur’, sedangkan si B sedang berdiri ‘diam’. Karena si A sedang bergerak menuju kilat yang pertama, tentu saja kilat yang pertama itu terlihat lebih dulu. A bergerak menjauhi kilat yang kedua, sehingga kilat yang kedua tampak menyambar sesudah kilat yang pertama. Bagi si B yang sedang diam dan tidak mendekati maupun menjauhi kedua kilat itu, keduanya tampak menyambar pada waktu yang bersamaan. Yang mana yang benar? Keduanya benar! Tidak ada yang salah. Karena itulah ini dinamakan relativitas. Semua bergantung pada kerangka acuan yang digunakan. Dan apa pun kerangka acuannya, hukum-hukum fisika yang sama selalu berlaku (postulat 1). Sekarang jika si A dan si B sama-sama diminta untuk menghitung kecepatan cahaya, apa hasilnya akan berbeda? Tidak! Walaupun si A sedang bergerak dan si B sedang diam, keduanya akan mendapati bahwa kecepatan cahaya tetap tiga ratus juta meter per detik.
Ada konsekuensi dari teori relativitas ini. Yang paling terkenal adalah mulurnya waktu dan kontraksi panjang. Mulurnya waktu, atau bahasa kerennya Time Dilation, ini maksudnya bahwa jika suatu jam bergerak dengan kecepatan tertentu, waktunya akan memuai (mulur). Misalnya ada seorang astronot yang membawa jam tangannya saat menjalankan misi ke luar angkasa. Pesawat luar angkasa yang membawanya meluncur sangat cepat. Jika kita, yang berada di bumi, punya teropong yang sangat sensitif dan bisa melihat ke dalam pesawat yang sedang meluncur cepat itu, kita bisa menggunakan teropong itu untuk mengintip jam tangan si astronot. Sebelum si astronot berangkat kita sudah menyesuaikan jam tangan itu dengan jam tangan yang kita gunakan di bumi. Aneh, di jam tangan si astronot yang sedang meluncur di luar angkasa itu koq lebih lambat dibanding jam tangan kita di bumi? Padahal sebelum ia berangkat kedua jam sudah dicocokkan dan si astronot tidak mengubahnya sama sekali sejak keberangkatannya itu. Jarum detiknya tampak bergerak lebih lambat dibanding jarum detik di jam tangan kita. Inilah yang disebut dengan waktu yang mulur saat bergerak pada kecepatan tinggi. Semakin besar kecepatan gerak suatu benda atau partikel, waktu akan berjalan semakin lambat bagi benda atau partikel tersebut! Tentu saja hal ini tidak dirasakan oleh si astronot. Menurut si astronot, jam tangannya tidak berubah kecepatannya, yang berubah justru kecepatan jam tangan kita di bumi yang tampak bergerak lebih cepat. Hal ini disebabkan segala sesuatu di dalam pesawat astronot bergerak lambat termasuk proses metabolisma tubuh, getaran atom dan sebagainya.
Kontraksi panjang juga berkaitan dengan perbedaan kecepatan. Misalnya si astronot agak lelah, lalu mulai berbaring di tempat tidur yang sudah disediakan di pesawat luar angkasanya. Dengan teropong yang sama, kita bisa mengintip si astronot yang tidur berbaring itu. Aneh, sewaktu berbaring koq si astronot tampak lebih pendek? Sewaktu ia masih di bumi dan pesawatnya belum berangkat, ia tampak tinggi. Lebih aneh lagi, sewaktu ia sudah terbangun lagi dari tidurnya dan kembali berdiri, tiba-tiba ia kelihatan tinggi seperti biasa. Tetapi ia juga kelihatan lebih kurus saat berdiri! Ada apa ini? Apa ia menyusut sewaktu sedang tidur? Tentu tidak!  Karena ia sedang berada dalam pesawat yang meluncur cepat, saat ia tidur kita melihat panjang tubuhnya menciut (terjadi kontraksi panjang). Saat ia berdiri, kita melihat lebar tubuhnya menciut (juga merupakan kontraksi panjang). Ia sendiri tidak merasakan perubahan apa-apa di dalam pesawat. Nah, inilah serunya teori relativitas!
Tunggu dulu! Ada yang lebih seru lagi dari ini. The Twin Paradox. Apa itu? Misalnya kita pergi ke ruang angkasa menggunakan pesawat yang meluncur sangat cepat menjauhi bumi, dan kemudian kembali lagi ke bumi sepuluh tahun setelah pesawat lepas landas. Bagi kita yang berada di pesawat itu, kita hanya pergi selama satu tahun saja (karena adanya time dilation)! Jika kita punya saudara kembar yang menunggu kita di bumi, kita bisa melihat sendiri bahwa saat kita mendarat, kembaran kita (yang lahirnya bersamaan dengan kita) sudah 9 tahun lebih tua dari kita! Ini adalah salah satu akibat dari dilatasi waktu. Aneh tapi nyata!
Teori relativitas khusus ini telah banyak digunakan oleh para fisikawan dalam menelorkan karya-karya hebatnya. Sudah banyak bukti-bukti yang menunjukkan kebenarannya. Inilah hebatnya Einstein! Ia menelorkan teori tersebut murni dari hasil pemikiran otaknya saja, tanpa ada bantuan dari siapapun. Ia tidak pernah berdiskusi dengan siapapun dan tidak pernah menjalankan percobaan apapun untuk mendukung teori ini. Tetapi ternyata teori ini justru terbukti benar saat beberapa fisikawan mencobanya dalam berbagai eksperimen. Teori Einstein yang menelorkan konsep kecepatan cahaya inipun membuat heboh dunia karena bertentangan dengan teori Newton. Menurut Newton, jika sebuah benda yang sedang bergerak akan terus bergerak pada kecepatan sama jika tidak ada gaya lain yang mempengaruhinya. Jika kita memberikan gaya tambahan (secara terus-menerus) pada benda yang bergerak itu, maka gerakannya akan terus dipercepat. Ini berarti kecepatannya terus bertambah sampai pada kecepatan tak hingga, asalkan kita terus memberikan gaya yang dibutuhkan untuk mempercepat benda itu. Einstein langsung menyatakan: “Newton, forgive me…” karena menurut Einstein ini tidak mungkin terjadi! Semakin besar kecepatan yang diinginkan semakin besar pula gaya yang harus diberikan. Untuk mencapai kecepatan cahaya, kita harus memberikan energi dalam jumlah yang tak hingga (infinite). Hal ini tidak mungkin bisa dilakukan karena energi hanya ada dalam jumlah tertentu (finite) sebagai akibat dari Hukum Kekekalan Energi (energi tidak dapat diciptakan maupun dimusnahkan). Jumlah energi yang tersedia tidak pernah bertambah sehingga kecepatan cahaya tidak mungkin bisa dicapai.
Disamping Teori Relativitas Khusus, Einstein juga mengembangkan Teori Relativitas Umum (The General Theory of Relativity). Dalam teori ini Einstein memperhitungkan pengaruh gravitasi pada cahaya. Einstein menunjukkan bahwa lintasan cahaya akan mengalami pembelokan ketika berada dekat dengan benda-benda luar angkasa yang besar-besar itu.  Tahu nggak, teori ini berhasil lolos ujian yang amat sulit, yaitu ketika menentukan gerakan presesi dari perihelion orbit planet Merkuri.  Kemudian pada tahun 1919 ketika terjadi gerhana matahari total di teluk Guinea, Afrika sekelompok ilmuwan Inggris berusaha membuktikan adanya pembelokan cahaya bintang ketika berada dekat sekali dengan matahari seperti yang diramalkan oleh Teori Relativitas Umum Einstein. Para astronomer memfoto berbagai posisi suatu bintang tertentu ke arah matahari dan kemudian mengulangi 6 bulan kemudian. Ternyata ramalan Einstein benar! Saat itu Einstein menjadi sangat terkenal. (***)


(Yohanes Surya)




Rabu, 21 Agustus 2013

Bisakah MESTAKUNG?




#Hari – 2
Sobat, rencanaku kemarin untuk bertnya pada pak Arif di luar jam pelajaran belum berhasil. Kemarin pak Arif buru-buru sekali katanya ada keperluan. Pak Arif malah memberikan aku sebuah buku, judulnya Mestakung, sobat tahu? Iya itu, buku Prof. Yohanes Surya, bapak Olimpiade Fisika Indonesia. Ketika aku lihat buku kotak berbentuk persegi, tidak tebal dan tidak terlihat rumus, buku apa ini? Kataku karena aku sebelumnya belum tau. Tapi aku yakin buku ini bagus untuk menunjang sika fisika ku, hee..semoga... ;)
Pagi ini ku langkahkan kaki dengan semangat naik satu tingkat sobat. Karena aku sudah kenal dengan Mestakung itu..haa ;) Dan aku pun menghadirkankannya dalam hidupku.
“Aku dikasih pinjem buku ini sama pak Arif, Lin.” Ceritaku pada Alina teman sebangku ku yang baik dan rajin baca.”
“wah, buku apa ini? Aku belum pernah melihatnya di perpus?”
“Ini Mestakung, Semesta Mendukung.” Kataku dengan semangat.
“Semesta mendukung?”
 
“Iya, jadi ternyata saat kita dalam keadaan kritis, kita akan berusaha menggunakan segenap kemampuan kita untuk memperoleh keadaan ynag ideal.”
“Wah, sepertinya bagus ya? Tapi aku masih kurang ngerti.”
“Bukan hanya bagus Lin, ini luar biasa. Ini menjadikan aku lebih semangat lagi menghadapi UN dan Sika Fisika yang sejati. Aku ingin menghadirkan Mestakung”
“Wihh..suka suka,. Aku suka liat kamu semangat kayak gini. Aku juga mau baca dong.”
“Iya boleh, tapi kita ijin dulu ya ke pak Arif. Sambil aku mau bilang terima kasih.”
“Memangnya dari buku itu kamu udah bisa menjawab....”
Tiba-tiba datanglah guru Bahasa Inggris ku. Kami pun langsung memulai pelajaran. Dalam hati aku berkata, memang buku ini memang belum mengantarkan aku ke puncak sika Fisika ku. Tapi buku ini menjadi tangga keduaku, setelah ikhlas, kemarin. Dengan Mestakung, aku akan membuat kondisi kritis, agar aku bisa melaju dengan lebih cepat dan fokus. Tapi ada tanya baru, bisakah Mestakung aku???

“Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”
(QS. Al-Alaq : 5)

------ to be continue, insya Allah ;)                 

¯MESTAKUNG¯
Langkah tegap kaki ku
Dengarkan hentakanku
Kadang aku terjatuh
Tapi ku terus maju
Yeah....
Kejar dengan hatimu
Lakukan sungguh-sungguh
Apapun yang kau mau
Apapun impianmu
*Karena di dalam hidup ini
Tak ada yang tak mungkin
Reff :
Lihatlah kawan bulan masih bersinar
Terangi malam hidup terus berjalan
Raih mimpimu, bulatkanlah tekadmu
Mestakung, semesta mendukung

By : Prof. Yohanes Surya


"TANDA TANYA BESAR"

 
Hi sobat, perkenalkan namaku Sika. Unik ya namaku, mau tau kepanjangannya? Sika Fisika :D hee..
Bukan sih, itu nama panggilanku, bahkan bisa dibilang itu julukanku. Bisa tebak kenapa aku dijuluki seperti itu sobat? Aku yakin kalian semua menjawab hal yang sama, tapi maaf bukan itu sobat. Aku bukan orang yang suka fisika apalagi pandai fisika. Justru aku orang yang sama sekali belum mengerti fisika. Aku heran kenapa orang-orang juga sama dengan ku, sama-sama ga suka fisika, hmm. Kenapa pelajaran fisika itu terasa sulit. Tapi yang aku lebih herankan, kenapa ada orang bahkan tak sedikit orang  yang sangat menyukai fisika, yang setiap harinya berkutat dengan ilmu itu, yang berprestasi dengan fisika, yang hidup dengan fisika.
Aha, ting ting. Meski tanpa kejatuhan buah apel di kepala, atau tanpa aku mandi di bak mandi Archimedes, aku dapat melihat sesuatu menyala di pikiranku. Bukan bola lampunya Edison, aku justru membawa TANDA TANYA BESAR dikepalaku. Tanda Tanya inilah yang membuat teman-temanku memanggilku sika Fisika, padahal namaku Azki Nadhira. Lho? hee...
Ayo sobat, yang penasaran denganku, yang sama denganku, yang membawa TANDA TANYA BESAR di kepala tentang FISIKA seperti ku...Ayo temani aku sobat ;) Kita bersama yang akan berpetualang menjawab tuntas hingga tanda tanya besar ini berubah menjadi tanda seru yang tinggi! He...
Bersama, ayo kita mulai dengan mengucap Basamalah, agar Allah ridho dan memberkahi kita, Bismillahirrohmanirrahim.....
# Hari – 1
Tidak terasa aku sekarang telah naik kelas XII jurusan IPA. Iya, walaupun untuk fisika aku membawa tanda tanya, tapi untuk MIPA secara keseluruhan aku love it, he. Walau tidak semua yang aku suka, aku bisa. Tapi alhamdulillah, aku menikmatinya. Kembali ke fisika, sika Fisika gitu ;) he
Ternyata memasuki kelas XII ini sekolah langsung memberikan program persiapan menuju UN, yaitu pengayaan. Sedangkan mata pelajaran yang lain dicukupkan. Asyik juga belajar lebih difokuskan tanpa terlalu banyak beban mapel laninnya. Oh ya, hari ini aku sudah siap dengan tanda tanya besar ini. Kebetulan hari ini mapel pertama adalah fisika. Aku sudah sangat berharap bisa mulai mengupas misteri tanda tanya ini, hihihi..
Guru fisika ku bernama pak Arif. Diawal pertemuan beliau memperkenalkan terlebih dahulu karena beliau belum pernah mengajar angkatan kami di kelas X maupun XI. Ada yang menarik dari beliau, karena beliau berkata begini “Bapak mengajar fisika di sini dengan ikhlas. Dan bapak ingin kalian semua juga ikhlas belajar dan diajar mapel fisika oleh bapak. Ketika hati sudah ikhlas, insya Allah segalanya akan mudah dan berkah”. IKHLAS. Ya, itu kunci pertama dari segala sesuatu. Pantas saja “inamal a’malu bi niyat”, niat memang luar biasa pengaruhnya, niat ikhlas, hanya mengharapkan keridhoan Allah atau melakukan segala sesuatu karena Allah. Ya, itu. Ikhlas, aku sungguh ikhlas untuk belajar fisika. Aku ikhlas dengan tanda tanya ini. Dan aku ikhlas untuk berjuang menjawab tanda tanya ini, Bismillah, ikhlas.. J
Lanjut, pengayaan memberikan kenyamanan tersendiri. Karena merupakan inti sari dari satu mapel selama 3 tahun ini. Dan dari pengayaan ini semoga aku dapat me.....(ah takut bosen ya sobat kalau aku bilang tanda tanya terus, mana d atas judul petualanganku TANDA TANYA BESAR juga, hee.. mending ku rubah aja, biar simple tanda tanyaa besar jadi sika fisika) semoga aku dapat menjadi sika fisika yang sejati,aamiin J
Belum juga pak Arif memulai materinya, aku langsung nyamber pak arif dengan acungan tangan.
“Pak, boleh saya bertanya?”
“oh iya tentu boleh, siapa nama kamu?
Entah mungkin karena baru pertama kali aku bertanya di mapel fisika, aku merasa seisi kelas langsung memandangiku. Aku terbata karena gugup dan aku lupa meperkenalkan namaku.
“fi.sika..fisika..kenapa ya kok susah pak?”
“Baik, bapak akan jelaskan. Sebelumnya terimakasih pertanyaannya Sika.”
Sontak seisi kelas tertawa “hahaha...sika :D”
“lho kenapa?”
“bukan Sika pak.”
“Lho tadi bilang Sika?”
 “maaf pak, nama saya Azki Nadhira”
“lho jauh sekali dengan tadi?”
///..........hmm...ya begitulah awal mula nama Sika Fisika, sobat J
Dan tentang jawaban tentang pertanyaanku itu, begini teksnya “fisika tersa sulit karena kamu belum memahaminya.” Sekian.
Singkat dan jelas. Jelas belum cukup bagi Sika Fisika ku. Akhirnya aku putuskan untuk menyakan kembali di luar jam pelajaran nanti kepada pak Arif...hihihi
“Anak-anak, apakah kalian sudah tahu, fisika itu terbagi menjadi dua, yaitu fisika klasik & fisik modern?”
Cut, kata kunci lagi tuh ;)
Pertama, Klasik itukan jaman dulu, kata pak Arif fisika klasik = sebelum tahun 1900-an meliputi teori, konsep, hukum, dan percobaan, dalam 3 bidang :
1. Mekanika Klasik => gerak benda pada kecepatan normal
2. Termodinamika => panas, suhu, & kelakuan partikel
3. Elektro dinamika => listrik, magnet, optik, & radiasi
Yang kedua, FisMod = fisika Modern (tahun 1900 an kesana atau abad ke-20) => struktur yang lebih kecil.
Wah, subhannallah, indahnya ilmu Allah. Semua terurut dan tertata rapi. Beitupun dengan fisika J
“Dia telah menciptakan segala sesuatu dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.” (QS. Al-Furqan : 2)
------to be continue, insya Allah ;)