#Hari – 3
Seharian kemarin aku belum bertemu dengan pak
Arif sobat.Tapi hari ini semoga aku bisa bertemu dengan beliau, hari ini ada
mapel fisika di kelas ku. Asyik, aku tak sabar ingin segera bertemu dengan
fisika.
“Setelah kemarin bapak menjelaskan secara garis
besar pembagian fisika, kini kita akan mulai mereview materi-materi ynag telah
diajarkan. Dimulai dulu dari fisika klasik. Seperti yang sudah bapak jelaskan
kemarin bahwa selama ini kalian beljaar fisika klasik, fisika jadul. Sedabgkan
untuk Fisika modern kalian pelajari di kelas XII ini, diantaranya tentang teori
relativitas Einstein. Ada yang sudah tau tentang teori ini?”
“Belum..”
“Dan adakah yang ingin tahu?”
“Tidak...” (kataku keras) Sontak semua mata
melihatku heran.
“Kenapa Sika, eh Azki? Kenapa tidak?”
“Tidak hanya ingin tahu pak, tapi ingin paham :D” kataku mantap
“Tidak hanya ingin tahu pak, tapi ingin paham :D” kataku mantap
“hahaha..” lagi kelas mentertawaiku.. sedang pak
Arif tersenyum.
“iya, bagus, tentu semoga kalian bukan hanya
tahu tapi juga paham. Bahkan kalian harus mampu mengambil manfaatnya,
menerapkannya dalam kehidupan.”
“iya pak..”
“Ok, sekarang sebelum mereview materi yang
sudah, bapak berikan selayang pandang dulu tentang Relativitas. Ini sangat seru
lho.”
“Seru???”
“Bapak akan jelaskan teori ini secar lebih mudah dicerna, seperti dalam artikel Prof. Yohanes Surya, bapak fisika Indonesia.”
“Seru???”
“Bapak akan jelaskan teori ini secar lebih mudah dicerna, seperti dalam artikel Prof. Yohanes Surya, bapak fisika Indonesia.”
Pak Arif pun kemudian memperkenalkan teori
relativitas kepada kami, berdasarkan artikel Prof. Yohanes. Sika akan cantmkan
artikelnya disini sobat, silahkan membaca, asyik lho :D
|
Einstein: Newton forgive me….
|
|
Itu kata-kata
Einstein saat teori yang dihasilkannya ternyata berhasil menggulingkan teori
Isaac Newton, seorang fisikawan legendaris, yang teorinya dipercaya oleh
dunia sebelum munculnya teori Einstein yang mengobrak-abrik semuanya. Albert
Einstein membuat heboh dengan Teori Relativitas Khusus (The Special Theory of
Relativity) yang ditelorkannya pada tahun 1905. Sebentar lagi, teori yang
pernah mengagetkan dunia ini akan merayakan ulang tahunnya yang ke-100! Perayaan seabadnya (Centenary) teori si jenius Albert
Einstein ini bisa dilihat dari ramainya majalah-majalah ilmiah yang mulai
membahas kembali teori yang sudah mengguncang dunia selama seratus tahun ini.
Tahun 2005 bahkan dicanangkan sebagai The World Year of Physics untuk
mengenang kebesaran Einstein. Apa sih istimewanya teori ini?
Koq seluruh dunia begitu heboh merayakan kelahirannya ini? Yuk, kita ikut
dalam gosip seru tentang apa yang menjadi dasar lahirnya teori ini...
Seorang ahli matematika dari Perancis, Jules Henri Poincaré, pernah
mengajukan perumpamaan berikut. Di suatu malam, kita sedang asyik tidur
dengan lelap di tempat tidur kita yang nyaman. Tiba-tiba seluruh jagad raya
mengembang sehingga ukurannya menjadi seribu kali lebih besar dari ukuran
semula. Seluruh jagad raya ini maksudnya semua benda di bumi dan di luar
bumi, mulai dari benda-benda mati sampai semua jenis makhluk hidup, termasuk
kita sendiri yang sedang lelap tertidur. Karena kita sedang asyik bermimpi,
kita tidak menyadari kejadian ini. Sewaktu kita terbangun di pagi harinya,
apa kita bisa merasakan bahwa semuanya sudah menjadi lebih besar? Apa kita
bisa merasakan perbedaannya? Kalaupun kita diberi tahu bahwa ada kejadian
menghebohkan tersebut saat kita tertidur, apakah ada yang bisa
membuktikannya? Pasti kita tidak merasakan perbedaan apa pun walaupun seluruh
jagad raya kini sudah berubah ukurannya. Ini karena semuanya ikut berubah
sehingga tidak ada satu pun yang bisa dijadikan patokan untuk mengukur
terjadinya perubahan tersebut. Karena itu, kita juga tidak mungkin bisa membuktikan
bahwa seluruh jagad raya ini kini telah menjadi seribu kali lebih besar.
Semua terlihat sama. Lain halnya jika hanya tubuh kita yang tiba-tiba menciut
menjadi sangat kecil (ingat film fiksi Honey, I Shrunk the Kids!), sedangkan
seluruh jagad raya tetap pada ukurannya semula. Tidak ada satu pun yang
berubah ukuran kecuali tubuh kita sendiri. Wah, sudah pasti kita langsung
panik karena kita bisa langsung merasakan perbedaan itu. Kita langsung tahu
apa yang terjadi karena kita bisa melihat bahwa sekeliling kita tiba-tiba
tampak seperti raksasa. Baju yang kita pakai tiba-tiba kedodoran, dan cincin
yang biasa melingkar manis di jari kita tiba-tiba tampak seperti lingkaran
raksasa yang berat dan menyeramkan karena hampir jatuh menimpa tubuh kerdil
kita itu. Tetapi, apakah itu berarti bahwa tubuh kita yang mengecil, atau
sekeliling kita yang tiba-tiba membesar? Hmm... bingung juga ya!
Bagaimana
cara kita menentukan mana yang besar dan mana yang kecil? Apakah planet bumi
yang kita tempati ini bisa disebut berukuran besar? Kalau dibandingkan dengan
ukuran bola basket yang biasa kita mainkan di sekolah, tentu saja planet bumi
ini tampak seperti bola raksasa yang sangat besar! Tetapi kalau kita bandingkan dengan matahari, planet bumi ini termasuk
kecil! Jadi, yang mana yang benar? Besar atau kecil? Tidak ada yang benar, dan
tidak ada yang salah! Itulah letak permasalahannya. Ukuran tidak bisa
dinyatakan secara absolut. Untuk mengukur sesuatu kita perlu sesuatu yang
lain sebagai perbandingannya. Ini berarti bahwa ukuran (orang fisika lebih
senang menyebutnya sebagai: Length) selalu bersifat relatif, tidak ada yang
mutlak berukuran besar ataupun kecil.
Sekarang kita
coba lihat kasus lain. Masih ingat cerita si Kancil
yang gesit dan lincah? Kancil bisa berlari sangat cepat. Tunggu dulu! Apa
benar kancil itu cepat? Kalau dibandingkan dengan siput, sudah pasti si
kancil terlihat sangat cepat. Kalau dibandingkan dengan juara olimpiade pun
kancil masih terlihat sangat cepat. Tetapi kalau kita bandingkan dengan
pesawat terbang, tentu saja si kancil jadi terlihat begitu lambat. Apa ini
berarti pesawat terbang itulah yang cepat? Tidak juga! Kalau kita lihat roket
yang meluncur ke luar angkasa, kita bisa langsung tahu bahwa roket itu jauh
lebih cepat dari pesawat terbang biasa. Ini berarti, kecepatan pun merupakan
sesuatu yang relatif. Kita juga bisa membuktikan ini saat kita sedang
mengantar saudara kita yang akan pergi ke luar kota naik kereta api cepat.
Sewaktu kereta mulai meluncur, kita melihat saudara kita itu melesat dengan
cepat. Tetapi di dalam kereta itu sendiri, orang yang duduk di sebelah
saudara kita itu melihat bahwa saudara kita itu duduk diam dan tenang di
sebelahnya. Jadi, bagi kita yang sedang berada di luar kereta yang sedang
meluncur itu, saudara kita memang terlihat bergerak dengan cepat. Tetapi bagi
semuanya yang ada di dalam kereta, ia terlihat sedang diam. Jadi, waktu
(Time) tidak mempunyai nilai absolut, sama seperti ruang (Space). Semuanya
harus selalu dibandingkan dengan sesuatu yang bisa dijadikan patokan. Misteri
inilah yang diutak-atik oleh otak jenius Einstein sehingga melahirkan teori
relativitasnya yang terkenal itu. Semua hal yang tampak sebagai sesuatu yang absolut
ternyata merupakan sesuatu yang relatif.
Ada dua postulat dalam teori relativitas khusus ini. Yang pertama
menyatakan bahwa semua hukum fisika yang berlaku di bumi, berlaku juga di
seluruh jagad raya. Yang kedua menyatakan bahwa kecepatan cahaya di ruang
hampa selalu konstan (sekitar tiga ratus juta meter per detik, atau sering
ditulis dalam bentuk kerennya: 3.108 meter per detik). Postulat
yang kedua ini menunjukkan bahwa bagaimanapun cara kita mengukurnya,
kecepatan cahaya tidak pernah berubah. Apa pun patokan yang kita gunakan
untuk mengukur kecepatan cahaya, di mana pun posisi kita saat mengukur, dan
berapa pun kecepatan kita (apakah kita sedang bergerak atau sedang duduk
diam) saat mengukur, kecepatan cahaya selalu konstan. Ini
menunjukkan bahwa kecepatan cahaya merupakan satu-satunya yang bersifat
absolut. Postulat yang pertama pun menyatakan
bahwa kondisi ini selalu berlaku di mana pun juga. Ini berarti, jika kita
mengukur kecepatan cahaya di galaksi lain, kita tetap mendapatkan hasil yang
sama, yaitu tiga ratus juta meter per detik!
Postulat-postulat
Einstein ini ternyata memberi dampak besar bagi dunia. Ia pernah mencoba
menjelaskan efek yang dihasilkan dari teorinya ini dalam perumpamaan berikut.
Misalnya ada sebuah kereta yang sedang meluncur
cepat. Si A sedang duduk dengan tenang dalam salah satu gerbong kereta itu.
Si B sedang berdiri diam di luar kereta dan mengamati kereta yang meluncur di
depannya itu. Sewaktu gerbong kereta yang dinaiki si A meluncur tepat di
depannya, tiba-tiba ada kilat menyambar di dua tempat yang berbeda. Kilat
pertama menyambar 100 meter di sebelah kanan B, sedangkan kilat yang satunya
lagi menyambar 100 meter di sebelah kiri B. Saat kedua kilat menyambar,
posisi A tepat di depan B. Karena si B sedang berdiri diam di luar kereta
yang sedang meluncur, si B melihat kedua kilat itu menyambar pada saat yang bersamaan.
Tetapi lain halnya dengan si A. Si A yang sedang berada di dalam kereta yang
meluncur cepat (ke arah kanan si B) melihat kedua kilat menyambar satu per
satu. Kilat yang pertama terlihat lebih dulu, beberapa saat kemudian baru
kilat yang kedua terlihat oleh A. Padahal jarak A terhadap kilat pertama dan
kedua sama dengan jarak B terhadap kedua kilat itu. Perbedaan ini
disebabkan bedanya kerangka acuan A dan B (frame of reference). Si A sedang ‘meluncur’, sedangkan si B sedang
berdiri ‘diam’. Karena si A sedang bergerak menuju kilat yang pertama, tentu
saja kilat yang pertama itu terlihat lebih dulu. A bergerak menjauhi kilat
yang kedua, sehingga kilat yang kedua tampak menyambar sesudah kilat yang
pertama. Bagi si B yang sedang diam dan tidak mendekati maupun menjauhi kedua
kilat itu, keduanya tampak menyambar pada waktu yang bersamaan. Yang mana
yang benar? Keduanya benar! Tidak ada yang salah. Karena itulah ini dinamakan
relativitas. Semua bergantung pada kerangka acuan yang digunakan. Dan apa pun
kerangka acuannya, hukum-hukum fisika yang sama selalu berlaku (postulat 1).
Sekarang jika si A dan si B sama-sama diminta untuk menghitung kecepatan
cahaya, apa hasilnya akan berbeda? Tidak! Walaupun si A sedang bergerak dan
si B sedang diam, keduanya akan mendapati bahwa kecepatan cahaya tetap tiga
ratus juta meter per detik.
Ada konsekuensi dari teori relativitas ini. Yang paling
terkenal adalah mulurnya waktu dan kontraksi panjang. Mulurnya waktu, atau
bahasa kerennya Time Dilation, ini maksudnya bahwa jika suatu jam bergerak
dengan kecepatan tertentu, waktunya akan memuai (mulur). Misalnya ada seorang
astronot yang membawa jam tangannya saat menjalankan misi ke luar angkasa.
Pesawat luar angkasa yang membawanya meluncur sangat cepat. Jika kita, yang berada
di bumi, punya teropong yang sangat sensitif dan bisa melihat ke dalam
pesawat yang sedang meluncur cepat itu, kita bisa menggunakan teropong itu
untuk mengintip jam tangan si astronot. Sebelum si astronot berangkat kita
sudah menyesuaikan jam tangan itu dengan jam tangan yang kita gunakan di
bumi. Aneh, di jam tangan si astronot yang sedang meluncur di luar angkasa
itu koq lebih lambat dibanding jam tangan kita di bumi? Padahal sebelum ia
berangkat kedua jam sudah dicocokkan dan si astronot tidak mengubahnya sama
sekali sejak keberangkatannya itu. Jarum detiknya tampak bergerak lebih
lambat dibanding jarum detik di jam tangan kita. Inilah yang disebut dengan
waktu yang mulur saat bergerak pada kecepatan tinggi. Semakin besar kecepatan
gerak suatu benda atau partikel, waktu akan berjalan semakin lambat bagi
benda atau partikel tersebut! Tentu saja hal ini tidak
dirasakan oleh si astronot. Menurut si astronot, jam tangannya tidak berubah
kecepatannya, yang berubah justru kecepatan jam tangan kita di bumi yang
tampak bergerak lebih cepat. Hal ini disebabkan segala sesuatu di dalam
pesawat astronot bergerak lambat termasuk proses metabolisma tubuh, getaran
atom dan sebagainya.
Kontraksi
panjang juga berkaitan dengan perbedaan kecepatan. Misalnya si astronot agak
lelah, lalu mulai berbaring di tempat tidur yang sudah disediakan di pesawat
luar angkasanya. Dengan teropong yang sama, kita bisa mengintip si astronot
yang tidur berbaring itu. Aneh, sewaktu berbaring koq si astronot tampak
lebih pendek? Sewaktu ia masih di bumi dan
pesawatnya belum berangkat, ia tampak tinggi. Lebih aneh lagi, sewaktu ia
sudah terbangun lagi dari tidurnya dan kembali berdiri, tiba-tiba ia
kelihatan tinggi seperti biasa. Tetapi ia juga kelihatan lebih kurus saat
berdiri! Ada apa ini? Apa ia menyusut sewaktu sedang tidur? Tentu tidak!
Karena ia sedang berada dalam pesawat yang meluncur cepat, saat ia
tidur kita melihat panjang tubuhnya menciut (terjadi kontraksi panjang). Saat
ia berdiri, kita melihat lebar tubuhnya menciut (juga merupakan kontraksi
panjang). Ia sendiri tidak merasakan perubahan apa-apa di dalam pesawat. Nah,
inilah serunya teori relativitas!
Tunggu dulu! Ada yang lebih seru lagi dari ini. The Twin
Paradox. Apa itu? Misalnya kita pergi ke ruang angkasa menggunakan pesawat
yang meluncur sangat cepat menjauhi bumi, dan kemudian kembali lagi ke bumi
sepuluh tahun setelah pesawat lepas landas. Bagi kita yang berada di pesawat
itu, kita hanya pergi selama satu tahun saja (karena adanya time dilation)! Jika kita punya saudara kembar yang menunggu kita
di bumi, kita bisa melihat sendiri bahwa saat kita mendarat, kembaran kita
(yang lahirnya bersamaan dengan kita) sudah 9 tahun lebih tua dari kita! Ini
adalah salah satu akibat dari dilatasi waktu. Aneh tapi nyata!
Teori relativitas khusus ini telah banyak digunakan oleh para fisikawan
dalam menelorkan karya-karya hebatnya. Sudah banyak bukti-bukti yang
menunjukkan kebenarannya. Inilah hebatnya Einstein! Ia menelorkan teori
tersebut murni dari hasil pemikiran otaknya saja, tanpa ada bantuan dari
siapapun. Ia tidak pernah berdiskusi dengan siapapun dan tidak pernah
menjalankan percobaan apapun untuk mendukung teori ini. Tetapi ternyata teori
ini justru terbukti benar saat beberapa fisikawan mencobanya dalam berbagai
eksperimen. Teori Einstein yang menelorkan konsep kecepatan cahaya inipun
membuat heboh dunia karena bertentangan dengan teori Newton. Menurut Newton,
jika sebuah benda yang sedang bergerak akan terus bergerak pada kecepatan
sama jika tidak ada gaya lain yang mempengaruhinya. Jika kita memberikan gaya
tambahan (secara terus-menerus) pada benda yang bergerak itu, maka gerakannya
akan terus dipercepat. Ini berarti kecepatannya terus bertambah sampai pada
kecepatan tak hingga, asalkan kita terus memberikan gaya yang dibutuhkan
untuk mempercepat benda itu. Einstein langsung menyatakan: “Newton, forgive me…”
karena menurut Einstein ini tidak mungkin terjadi! Semakin besar kecepatan yang diinginkan semakin besar pula gaya yang
harus diberikan. Untuk mencapai kecepatan cahaya, kita harus memberikan
energi dalam jumlah yang tak hingga (infinite). Hal ini tidak mungkin bisa
dilakukan karena energi hanya ada dalam jumlah tertentu (finite) sebagai
akibat dari Hukum Kekekalan Energi (energi tidak dapat diciptakan maupun
dimusnahkan). Jumlah energi yang tersedia tidak pernah bertambah sehingga
kecepatan cahaya tidak mungkin bisa dicapai.
Disamping
Teori Relativitas Khusus, Einstein juga mengembangkan Teori Relativitas Umum
(The General Theory of Relativity). Dalam teori ini Einstein memperhitungkan
pengaruh gravitasi pada cahaya. Einstein menunjukkan bahwa lintasan cahaya
akan mengalami pembelokan ketika berada dekat dengan benda-benda luar angkasa
yang besar-besar itu. Tahu nggak, teori ini berhasil lolos ujian yang
amat sulit, yaitu ketika menentukan gerakan presesi dari perihelion orbit
planet Merkuri. Kemudian pada tahun 1919 ketika terjadi gerhana
matahari total di teluk Guinea, Afrika sekelompok ilmuwan Inggris berusaha
membuktikan adanya pembelokan cahaya bintang ketika berada dekat sekali
dengan matahari seperti yang diramalkan oleh Teori Relativitas Umum Einstein.
Para astronomer memfoto berbagai posisi suatu bintang tertentu ke arah
matahari dan kemudian mengulangi 6 bulan kemudian. Ternyata ramalan Einstein
benar! Saat itu Einstein menjadi sangat terkenal. (***)
(Yohanes Surya) |
